Posted by: prihadisetyo | May 4, 2009

MERASA MULIA BERSAMA PENERIMA COBAAN

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Apabila kita rasakan dalam hidup kita selama ini, tentu ada kalanya kita merasa bersedih karena satu hal kurang baik menimpa diri kita, dan yang pasti hal tersebut merupakan cobaan dari Allah untuk kita. Cobaan tidak selalu berupa kesedihan karena kesenanganpun sebenarnya juga merupakan cobaan. Namun kesedihanlah yang barangkali dapat membuat kita merasa tidak beruntung sehingga seolah-olah kita akan merasa paling menderita. Nah di kala seperti itu, cobalah kita tengok kanan kiri kita. Tidakkah kita telah menyaksikan betapa banyaknya orang lain yang juga sedang mendapat cobaan? Betapa banyak orang yang telah atau sedang tertimpa bencana, seperti kehilangan rumah dan harta yang dimiliki akibat banjir, air bah, tsunami dll. Di tempat lain banyak juga penderitaan yang terjadi akibat peperangan sehingga banyak pula yang kehilangan orang yang dicintainya. Barangkali di Bandung ini, apabila kita telusuri tentu akan kita dapati banyak sekali rintihan dan pipi yang pernah basah oleh air mata. Namun demikian di sana, banyak juga orang yang sabar menghadapi cobaan tersebut. Jadi hendaknya kita harus selalu berpikir bahwa cobaan yang menimpa kita barangkali tak seberapa bila dibandingkan dengan penderitaan yang menimpa orang lain di luar sana, dan jangan lupa bahwa kita bukan satu-satunya orang yang sedang menerima cobaan.

Nah apabila kita sudah dapat menempatkan diri bahwa kita tidak sendirian dan masih banyak yang lebih menderita disbanding kita dikala tertimpa kesedihan, maka kini tibalah saatnya kita untuk memandang diri sendiri sebagai orang yang mulia bersama mereka yang terkena musibah dan mendapat cobaan. Merasa mulia ditengah cobaan yang ditimpakan pada kita, insyaALLAH akan membawa hati kita lebih tenang dan ikhlas menerimanya. Banyak sekali suri tauladan yang dapat kita petik dari Rasulullah saw. Banyak sekali penderitaan dan cobaan yang barangkali kadarnya jaug lebih besar dibanding cobaan yang menimpa diri kita. Baginda Rasulullah saw pernah kedua kakinya dicederai dan wajahnya dilukai oleh orang-orang kafir Mekkah saat itu. Beliau dikepung dalam satu kaum beberapa lama hingga beliau hanya dapat makan dedaunan apa adanya saja, diusir dari Makkah, dipukul gerahamnya retak, dan seorang putra serta sebagian besar puterinya meninggal dunia saat beliau sedang senang-senangnya membelai mereka. Bahkan karena terlalu laparnya, beliau pernah beliau pernah mengikatkan batu di perutnya agar dapat menahan lapar. Beliau pernah pula dituduh sebagai penyair, bukan penyebar wahyu ALLAH swt, dituduh sebagai dukun dan pembohong. Namun ALLAH swt selalu melindungi beliau dan semua cobaan tadi beliau hadapi dengan sabar dan tabah serta beliau anggap sebagai penyucian jiwa yang tiada tara dan tandingannya.

Bagi beliau, tentu saja beliau selalu ingat surah Al Baqarah ayat 214 yang artinya adalah demikian:

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum dating kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan digoncang (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, kapankah dating pertolongan ALLAH? Ingatlah sesungguhnya pertolongan ALLAH itu dekat

Mengurung diri dalam kamar yang sunyi bersama kekosongan jiwa di kala ditimpa kesedihan merupakan cara ampuh untuk bunuh diri. Oleh sebab itu beberapa hal berikut ini yang disarankan bagaimana cara terbaik dalam menghadapi kesedihan, antara lain:

1. Sabar dan shalat, sebagaimana firman Allah pada surat al baqarah ayat 153 yang sebagian artinya adalah sebagai berikut “Wahai orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh Allah beserta orang yang sabar”. Setiap kali dirundung kegelisahan, Rasulullah saw selalu meminta kepada Bilal ibn Rabbah “tenangkanlah kami dengan shalat wahai Bilal”. Begitulah suri tauladan dari Rasulullah saw, karena bagi beliau shalat merupakan penyejuk hati dan sumber kebahagiaan.

2. Bertawakallah kepada Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kaya yang kekuatan amat besar ada padaNYA. Manusia tidak akan pernah mampu melawan setiap bencana, menaklukkan setiap derita dan mencegah setiap malapetaka dengan kekuatannya sendiri, karena manusia, kita ini, hanyalah makhluk yang sangat lemah. Manusia akan mampu menghadapi semua itu dengan baik hanya bila bertawakal kepada Rabb-nya, percaya penuh kepada Pelindungnya dan menyerahkan semua perkara kepada-NYA, seperti dalam firmanNYA di surah Al Maidah ayat 23 yang kalimat terakhir pada ayat itu adalah berbunyi “Dan, hanya kepada Allahlah hendaknya kamu bertawakal jika kamu benar-benar beriman”.

3. Berjalanlah di muka bumi, maksudnya adalah berjalan menjelajah negeri (bepergian) dan membaca “buku penciptaan Allah” yang terbuka lebar ini untuk menyaksikan dan merenungkan bagaimana pena-pena kekuasaanNYA menuliskan tanda-tanda keindahan di atas lembar kehidupan. Di muka bumi Allah ini kita akan melihat taman, kebun, sawah, bunga, bukit-bukit hijau yang sangat indah dan mempesona. Perhatikan di sekitar kita, nikmatilah karunia Allah yang tak ternilai jumlahnya, niscaya di saat seperti itu kita akan dapat menemukan jiwa yang merdeka dan bebas seperti halnya burung yang sedang berkicau melafalkan tasbih dalam kebahagiaan, seperti firmanNYA dalam surah Ali Imran ayat 191 yang maknanya” (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia, Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.

4. Terimalah setiap pemberian Allah dengan rela hati, niscaya kita akan menjadi manusia paling kaya dan mulia. Karena kita akhirnya merasa kaya dan mulia, maka penderitaan atau kesedihan kita yang merupakan cobaan dariNYA insyaALLAH akan dapat kita lalui dengan baik, karena memang kita tidak sendirian, kita selalu bersamaNYA.

Demikian uraian singkat agar kita selalu merasa mulia di tengah cobaan yang harus kita hadapi, semoga uraian tersebut dapat mengingatkan kembali pada kita agar dapat selalu menuju sasaran kita semua yaitu masuk ke surga untuk bertemu dengan Allah swt.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: