Posted by: prihadisetyo | October 8, 2008

MENJUAL TANAH AIR?

Mustinya pertanyaan saya di atas merupakan arti kiasan yang maknanya menggadaikan harga diri dan kedaulatan bangsa (kali ye). Namun yang ingin saya ceritakan di bawah ini adalah bukan arti kiasan tetapi memang benar-benar kejadian. Maksud saya memang benar-benar ada tanah yang tentunya mengandung air di Indonesia ini dijual ke negara asing karena di dalam tanah tersebut selain air terkandung pula mineral berharga seperti emas, nikel, besi, tembaga, dan lain-lain. Contoh konkretnya misalnya PT ANTAM mengekspor bijih nikel (tanah air yang mengandung sekian persen nikel) ke Jepang untuk dimurnikan di sana. PT XXX di Papua mengeksport tanah air yang mengandung emas dan tembaga (walaupun diberi nama tempaga pura supaya nilai jualnya lebih rendah kali) ke perusahaan Jepang untuk diambil emasnya. Dan lain-lain. Pertanyaannya kenapa kok sampai begitu? Alasan yang masuk akal adalah karena untuk mengambil logam-logam yang terkandung dalam tanah tersebut membutuhkan teknologi tinggi yang selain kita belum memiliki orang yang ahli memprosesnya dan membuat peralatan pemrosesnya, walaupun menurut hemat saya ketidakmampuan ini bukan semata-mata kesalahan bangsa kita tetapi lebih disebabkan tidak atau kurang diberi kesempatan untuk mengembangkan peralatan proses dan secara sengaja bangsa ini dirancang untuk tidak mudah percaya atas kemampuan dalam negeri. Siapa perancangnya? Ya tentunya pihak-pihak yang diuntungkan dengan kondisi seperti itu.

Akhir-akhir ini dihembuskan masalah otonomi daerah yang berdampak pada diberi ijinnya daerah mengelola sumber daya di daerahnya, termasuk mengelola sumber daya mineral. Banyak pengusaha-pengusaha daerah diberi ijin mengeksplorasi sumber daya mineral. Namun sudah siapkah mereka? Faktanya menunjukkan prosentase yang siap lebih sedikit, sebagian besar tidak siap. Makna tidak siap adalah mengerti bisnis sumber daya mineralpun baru kulitnya, belum sampai pada bagaimana memeriksakan kadar logam mineral yang terkandung, kalau ada apakah bisa dipercaya atau tidak, butuh laboratorium pembanding atau tidak, kalau nanti dijual dalam bentuk bijih (ore) bagaimana pembeli memeriksanya dan bagaimana kita percaya hasilnya, surat apa saja yang diperlukan, isi kontraknya seperti apa, kalau ada masalah sengketa kemana perginya dan lain-lain dan lain-lain masih banyak lagi. Walhasil banyak cerita yang mengenaskan yaitu sudah terlanjur mengekspor 1 kapal ore ternyata sampai di sana diclaim kadarnya tidak sesuai dengan kontraknya, mengadu tidak tahu kemana mengadunya, duit tidak masuk, kapal harus mbayar, dan …… akhirnya bangkrut. Penginnya untung malah buntung. Bagaimana kalau kasus seperti ini jumlahnya cukup banyak dan berlangsung lama?

Sebagai anak bangsa saya prihatin dengan kondisi kebijakan negara ini karena yang terjadi bukan jual tanah air tetapi mensubsidi tanah air kepada bangsa asing yang lebih makmur. Logikanya kalau menjual secara bisnis kan harus untung, tapi nyatanya kan malah buntung. Padahal tahah air di cerita ini kan non-renewable alias tak terbarukan. Apakah yang seperti ini bukan pendzoliman terhadap anak cucu kita?

Sebagai penutup cerita, barangkali negeri ini masih sangat memerlukan banyak sekali orang pintar, jujur dan mau berbuat sesuatu untuk kepentingan bangsanya. Apakah anda salah satunya? Saya menghimbau dan mendoakan, amiiin.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: