Posted by: prihadisetyo | September 14, 2008

PENTINGNYA MENAHAN HAWA NAFSU

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Hawa nafsu dapat diartikan keinginan yang berasal dari diri sendiri yang arahnya cenderung ke hal-hal yang tidak baik. Tidak baik di sini sebenarnya merupakan akibat dari syetan yang menungganginya. Sudah kita ketahui bersama bahwa salah satu tugas dari syetan adalah mempengaruhi atau membelokkan hal baik menjadi tidak baik. Nah, dalam hal hawa nafsu ini syetan sangat berpengaruh di dalamnya, yang mengubah keinginan baik menjadi hawa nafsu yang tidak baik. Termasuk ibadahpun dapat ditunggangi oleh syetan sehingga berubah menjadi hawa nafsu. Contoh yang sederhana adalah keinginan berinfak misalnya. Mulanya kita ingin berinfak sesuai dengan kemampuan kita, namun begitu sampai saat dan tempatnya ternyata banyak orang yang berada di sana dan syetan mengganggu kita sehingga keinginan kita tersebut berubah menjadi ria. Yang awalnya ingin menginfakkan Rp 1000,- dengan niat bersih dan hati ikhlas akhirnya berubah menjadi Rp 5000,- tapi dengan harapan agar kita dibilang hebat oleh sekitar kita. Jadi niatnya menjadi ria dan dalam hatinya sebenarnya tidak ikhlas.

Hawa nafsu, yang karena berasal dari diri kita, tidak dapat kita bunuh atau hilangkan. Yang dapat kita lakukan hanyalah mengendalikannya. Saat ini kita sedang berada dalam bulan Ramadhan yang merupakan bulan dimana kita harus menjalankan ibadah shaum. Shaum merupakan alat untuk latihan mengendalikan hawa nafsu. Oleh sebab itu dalam menjalankan shaum ramadhan hendaknya kita shaumkan pula mata, tangan, dan telinga selain mulut kita. Kita latih dengan cara merasakan lapar dan dahaga untuk mengendalikan hawa nafsu agar tidak kita turuti seluruhnya, karena mengikuti hawa nafsu dapat membawa kita ke derajat yang sangat rendah. Syetan selalu menghiasi hawa nafsu kita dengan angan-angan yang indah dan menutupi akibat buruk yang akan menimpa kita. Contoh, korupsi. Seorang koruptor pasti dalam pikirannya selalu dihiasi dengan angan-angan indah seperti bias beli mobil baru, bias beli rumah baru, atau bias beristri lagi dan lain-lain dan pikirannya akan tetutupi bahwa akibat perbuatannya tersebut bias membawanya ke penjara, namanya terpuruk, tidak dihargai oleh sekitar selain nanti di akhirat harus pula mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Ada satu pintu tempat keluar masuknya syetan di dalam diri kita yaitu hawa nafsu. Apabila kita buka lebar-lebar hawa nafsu ini, artinya kita turuti saja, ini berarti dengan sengaja kita membuka pintu diri kita agar syetan dapat leluasa masuk ke dalam diri kita. Mengendalikan hawa nafsu berarti mengendalikan pula masuknya syetan ke dalam diri kita. Dalam surat Yusuf ayat 53 Allah swt berfirman yang artinya:

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya  nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha pengampun lagi Maha Penyayang”.

Awal ayat ini merupakan pengakuan dari Zulaikha yang telah merayu nabi Yusuf a.s. Dikatakan pula di sana bahwa nafsu manusialah yang selalu mendorongnya hingga kadang-kadang tergelincir dalam meniti titian hidup. Kalimat berikutnya merupakan pujian bagi nabi Yusuf a.s yang karena memperoleh hidayah dan petunjuk dari Allah swt, tidak tergelincir mengikuti hawa nafsunya. Jadi, bagi kita yang perlu dicontoh adalah karena nabi Yusuf a.s selalu melihat tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah swt yang akhirnya selalu dikasihani oleh Allah swt, maka beliau dapat terlepas dari menuruti hawa nafsu. Dengan demikian selalu mengingat kebesaran dan kekuasaan Allah swt merupakan salah satu cara yang ampuh dalam mengendalikan hawa nafsu, karena yang seharusnya kita turuti adalah ALLAH swt, bukan hawa nafsu yang telah ditunggangi oleh syetan.

Dunia dapat hancur apabila ukuran kebenaran didasarkan pada hawa nafsu, seperti yang difirmankan dalam surah  Al Mu’minuun ayat  71 yang artinya:

“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu”

Ukuran Tuhan tentu berbeda dengan ukuran manusia. Manusia cenderung menuruti hawa nafsunya, sedangkan kebenaran Illahi meliputi semua, bukan hanya sebatas pada kehendak orang perorang.  Kalau seandainya orang yang kaya raya dibolehkan seenaknya mengikuti hawa nafsunya niscaya orang-orang lainnya ada yang menderita. Bagaimana tidak, karena si kaya bias membayar apa saja untuk memenuhi hawa nafsunya, termasuk membunuh orang lain yang tidak setuju dengan pendiriannya. Dengan demikian dunia akan hancur. Hawa nafsu juga dapat mendorong ke-ketidakadilan, seperti dalam firman ALLAH dalam surah An Nisaa ayat 135 yang artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena ALLAH biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan kata-kata atau enggan menjadi saksi maka sesungguhnya ALLAH Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan”.

Ayat ini adalah perintah kepada orang-orang yang beriman, jika menjadi saksi hendaklah  berbuat adil baik untuk diri sendiri, ibu bapak dan kaum kerabat, karena hawa nafsu dapat menjerumuskan kita untuk menyimpang dari kebenaran sehingga  perbuatan kita tersebut merupakan suatu ketidakadilan bagi terdakwa.

            Masih banyak lagi contoh-contoh akibat mengikuti hawa nafsu, yang tentunya akan membawa kita ke hal-hal yang buruk, dan bahkan dapat merendahkan derajat kita hingga layaknya hewan yang tidak memiliki akal. Oleh karena itu pada kesempatan di bulan Ramadhan ini, sambil menjalankan ibadah shaum, marilah kita berlatih mengendalikan hawa nafsu kita sehingga shaum kita kali ini akan merupakan shaum terbaik dalam diri kita. Orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya adalah orang yang paling sesat, dan tidak harus kita contoh. Sekali lagi yang harus kita turuti adalah ALLAH swt, yang kehendakNYA selalu berujung pada kebaikan dan telah disampaikan kepada kita semua melalui nabi junjungan kita Rasulullah Muhammad saw, agar cita-cita kita menjadi orang-orang yang bertaqwa untuk meraih surgaNYA nanti dapat terwujud. Amiin. Billahitaufik wal hidayah, wassalamualaikum wr wb.
 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: