Posted by: prihadisetyo | May 26, 2008

ENERGI DAN PENJAJAHAN MODEL KINI

Akhir-akhir ini dunia dikejutkan oleh masalah energi karena harga minayak yang naik terus hingga 135 US $ dalam waktu yang cukup singkat. Bagi Indonesia yang sudah net importir minyak pasti terkena imbasnya, dan terbukti minggu lalu pemerintah mengumumkan “dengan terpaksa” menaikkan harga BBM bersubsidi untuk mengurangi nilai subsidi yang sudah tidak dapat diakomodir lagi oleh APBN. Bagi negara-negara penghasil minyak bumi yang masih net exportir, justru kondisinya kebalikan. Mereka malahan diuntungkan akibat melambungnya harga minyak dunia.

Pertanyaan kita, apa benar kita akan selalu dirugikan – dan akan dirugikan terus sepanjang hayat? Ada teman cerita sehabis mengikuti world energy conference bahwa sebenarnya kalau dikalkulasi global (dunia), energy fosil ini masih panjang umurnya dan cukup jumlahnya untuk mendukung kegiatan dunia. Namun sayangnya dunia ini sudah terlanjur dikapling-kapling oleh penghuninya sehingga ada kapling Rusia, kapling USA, kapling Perancis, kapling Arab Saudi, kapling Malaysia, dan kapling-kapling lainnya. Malangnya lagi penduduk di setiap kapling tersebut tidak merata baik kepinterannya, kekayaan alamnya, dan sikap mentalnya (perbedaan lainnya masih banyak dan tidak disebut di sini).

Bagi negara “kaya”, baik devisanya maupun kekayaan alamnya, mereka akan berpikir dan bertindak bahwa selama devisanya masih besar untuk membeli kebutuhan energi dalam negerinya dari luar, ya mereka akan lakukan seperti ini. Dengan demikian kekayaan alam mereka masih utuh (bisa diexplorasi nanti-nanti) sementara bagi negara yang dibeli kekayaan alamnya akan lebih pendek umurnya karena uang hasil jualannya langsung masuk septic tank atau tersimpan di kantong beberapa gelintir atau golongan penduduknya. Atau bila tidak lebih pendek umurnya ya menjadi lebih miskin secara nasional.

Nampaknya kondisi ini sudah mulai jelas. Cina contohnya, hampir seluruh PLTU di Indonesia yang dibangun berdasarkan proyek 10000 MW dipasok oleh Cina. Kalau kita beli peralatan AC untuk gedung-gedung tinggi di Jakarta atau Mal-mal, kebanyakan sudah dibuat di Cina meskipun lisensi dari USA atau Eropa. Akibatnya devisa Cina meroket dan pemerintahnya memberhentikan sebagian eksplorasi batu bara yang dimilikinya hingga 100 juta ton per tahun (sebagai pembanding kita menghasilkan sekitar 150 juta ton per tahun, konsumsi batubara Indonesia saat ini untuk dalam negeri masih di kisaran 40 – 50 juta ton). Jadi kelihatannya ekspor kita bisa menggantikan sebagian dari yang dieksploitasi di Cina. Hasil ekspor kita langsung kita gunakan dan tambahan devisa kita tidak sebanding dengan pengurangan kekayaan alam kita. Nah….., suatu saat kita pasti bertemu dengan kondisi dimana kebutuhan kita tidak dapat dicukupi oleh devisa kita tapi kekayaan alam kita sudah hampir habis, kalau kita tidak bertindak sangat arif dan bijaksana. Contoh ini adalah baru batubara, belum minyak, nikel, tembaga (walaupun sebenarnya hasil yang besar justru di emas), dan lain-lain.

Alasannya sih penanaman modal asing, mempekerjakan bangsa kita, tapi bukankah sebenarnya ini merupakan penjajahan model kini?


Responses

  1. wah, salut juga dengan negeri cina yang sanggup melakukan inovasi dan perubahan yang bermakna bagi kemajuan negerinya. sebagai nagara berpenduduk besar seperti halnya cina, agaknya negeri kita tak perlu malu belajar kepada negara lain agar pemasukan devisa di negeri ini tak sampai berada pada titik nazir.

  2. Tk komentarnya pak,
    memang negara kita butuh pemimpin@ yang arif, tegas, pintar, dan “tuhusetyo” kepada negaranya agar cucu cicit kita tidak menderita. Salam.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: