Posted by: prihadisetyo | May 10, 2008

SUSAHNYA BANGSA INI PERCAYA PADA ANAK BANGSANYA

Mengapa Industri Semen?

Semen, sebagai perekat bahan bangunan, adalah material yang hingga saat ini belum ditemukan penggantinya. Hal ini menyebabkan harga semen ini menjadi tidak elastis mengikuti hukum pasar. Berapapun harga semen kalau orang ingin membangun pasti akan dibelinya. Contoh sederhana walaupun di Irian Jaya harga semen dapat mencapai Rp. 450.000,00 per zak 50 kilogram, tetap dibeli juga oleh masyarakat.

Dari sisi bisnis, kebutuhan semen dalam negeri tahun lalu sudah mencapai sekitar 33 juta ton. Dengan harga pasar sekitar Rp. 700.000,00 per ton, ini berarti bahwa omzet per tahun industri ini sekitar 23 triliun rupiah. Kebutuhan semen masih akan meningkat karena menurut statistik di negara maju (yang umumnya pertumbuhan pembangunan infrastruktur sudah establish) kebutuhan per kapita semen berada di angka 500 kg/orang. Kondisi konsumsi semen di negara kita saat ini baru sekitar 150 kg/orang.

Dari sisi teknologi, peralatan pabrik semen praktis tergolong sederhana dan tidak mengalami lompatan perubahan yang menakjubkan, kecuali sistem kontrolnya yang mengikuti perkembangan elektronik dan informatik. Kenyataan ini sebenarnya sangat menarik bagi industriawan peralatan mekanik karena beberapa peralatan mudah diproduksi di Indonesia. Barangkali yang lebih sulit (sebenarnya kalau mau mempelajari menjadi tidak sulit) adalah perancangan peralatannya (engineering design). Kesederhanaan teknologi peralatan pabrik semen ini mestinya menarik bagi kawan-kawan yang belajar teknik mesin dan ingin menuangkan hasil yang dipelajari dalam bentuk memproduksi peralatan.

Dari sisi kekayaan alam dan kelestarian lingkungan, semen ini berbahan baku yang tak terbarukan. Ini berarti bahwa selain kekayaan alam kita akan tergali, kelestarian lingkungan juga bisa terganggu bila pengelolaannya kurang cermat. Disamping itu proses produksi semen akan menghasilkan sekitar 0,9 -1,0 kg CO2 tiap 1 kg semen yang diproduksi. Bukankan hal ini semakin memberatkan masalah pemanasan global? Selain itu mengingat ujudnya yang debu, semen sebenarnya tidak cocok untuk ditransportasikan jauh dari pabriknya karena bila ini terjadi sama halnya dengan menebar-ratakan polutan. Kenyataan di pasar Jakarta dapat ditemui hampir semua merk semen.

Dari sisi pendidikan teknik proses produksi semen, ternyata hampir tidak ada staff pengajar atau peneliti baik dari Perguruan Tinggi maupun Lembaga Penelitian di Negara kita ini yang memiliki spesialisasi yang terkait dengan industri persemenan. Bahkan di program studi Teknik Kimia dan Mesin, rasanya tidak ada pelajaran khusus tentang peralatan pabrik semen. Banyak alasan diutarakan, namun yang pasti ketergantunngan kita pada expert dan vendor asing di bidang peralatan pabrik semen ini masih sangat tinggi walaupun peralatan utama pabrik ada yang merupakan hasil tekuk, rol, dan las pelat baja (proses pengolahan pelat baja yang dipelajari di Teknik Mesin Semester 3).

 

Idealisme Yang Ingin Tersalurkan

Masih terngiang di telinga ini saat 30 tahun lalu hampir semua dosen saat kuliah mengatakan bahwa insinyur itu harus berbuat agar hidup ini menjadi lebih mudah. Caranya banyak, satu diantaranya menciptakan peralatan untuk mempermudah kehidupan atau memperbaiki peralatan yang ada agar meningkat kinerjanya. Pesan ini terpatri terus hingga sepulang tugas belajar, dengan semangat tinggi, masih ingin menyumbangkan kepada bangsa ini di bidang pendidikan dan penelitian. Delapan tahun mengajar selepas tugas belajar, setiap mengikuti pertemuan alumni atau event-event lain yang terdengar adalah semakin berkurangnya kualitas alumni pendidikan teknik kita. Bahkan beberapa kawan mengatakan sebagian lembaga pendidikan teknik mesin di Indonesia ini makin lama semakin mendekati sastra mesin. Di bidang penelitian, hasil yang diperoleh hanya berupa laporan, tambahan honor sebagai dosen, dan beberapa karya tulis serta tanda penghargaan. Maslahat bagi masyarakat yang lebih luas dari hasil penelitiannya belum terasakan. Kenyataan ini mengusik hati kecil untuk lebih dekat ke industri agar image sastra di pendidikan teknik dihilangkan serta tersalurkannya hasil pemikiran langsung ke industri dalam rangka mengurangi ketergantungan terhadap asing.

Tuhan memberikan jalan, secara tak terduga saat menunaikan tugas pembinaan program studi baru di luar Jawa, penulis diketemukan dengan kawan saat kuliah yang sudah cukup lama membina karir di pabrik semen dan memberi kesempatan penelitian. Kesempatan ini tidak penulis sia-siakan dan bahkan sempat berjalan selama hampir 3 (tiga) tahun dan telah menghasilkan lebih dari 10 sarjana teknik dan 2 magister teknik dari penelitian industri ini. Selama melakukan penelitian ini ketemulah penulis dengan senior-senior persemenan yang ternyata memiliki idealisme sama yaitu memajukan SDM dan kemampuan profesionalisme anak bangsa di bidang persemenan. Mereka, bahkan, setelah melihat hasil penelitian yang penulis lakukan menawarkan kesempatan mengembangkan suatu institusi pendidikan/pelatihan dan penelitian di bidang persemenan yang telah dirintis beberapa tahun. Kesempatan ini penulis terima dengan tetap pada niat dan idealisme semula yaitu memajukan anak bangsa di bidang persemenan.

 

Kepercayaan Adalah Identik Dengan Keuletan dan Kesabaran

Masih dalam keteguhan hati agar hasil penelitian dapat diterapkan untuk kemaslahatan khalayak yang lebih luas serta keinginan menunjukkan bahwa anak bangsa ini ada yang bisa memperbaiki pabrik buatan orang asing, tak bosan-bosannya di setiap kesempatan pertemuan para praktisi persemenan, penulis menawarkan hasil penelitian yang dapat meningkatkan kinerja pabrik. Tak terasa waktu berjalan 7 tahun berlalu hanya dengan kegiatan penelitian di atas kertas serta presentasi dan belum satupun praktisi persemenan yang mau dan berani memutuskan untuk mengaplikasikan hasil penelitian penulis di pabriknya. Alasannya masuk akal, yang mudah ditebak adalah resiko gagal yang taruhannya produksi dan jabatan, dan yang menurut hemat penulis tersembunyi adalah penguasaan teknik yang kurang sehingga kurang percaya diri menilai secara teknis usulan perbaikan peralatan. Seluruh penjelasan teknis serta demo simulasi dengan simulator tercanggih saat itu yang juga digunakan oleh para produser peralatan produksi semen di dunia telah penulis lakukan. Yang mengherankan, di pabrik tempat penulis belajar dan melakukan penelitian tentang persemenan pertama kali juga belum ada yang berani memutuskan untuk menerapkan karya anak bangsa ini walau untuk peralatan yang resikonya tidak akan mengurangi atau menghentikan produksi. Alasan lain barangkali yang sering kita dengar, adakah ini merupakan sifat inferioritas bangsa di bidang teknik yang masih kental terpatri sebagai peninggalan feodalisme? Hingga tahun ke delapan berkecimpung di pengembangan kemampuan teknik rekayasa peralatan persemenan, hasil yang penulis peroleh masih sama yaitu laporan, tambahan honor sebagai dosen, dan beberapa karya tulis.

Semakin lama berinteraksi dengan dunia persemenan semakin terasa pula bahwa pabrik-pabrik semen di Asia Tenggara termasuk di Indonesia ini merupakan kelinci percobaan peralatan produksi semen bagi produsernya yang berada di Eropa dan Jepang. Masih banyak kesalahan desain dijumpai dan bahkan tidak sedikit pabrik yang belum mencapai kapasitas produksi tahunannya walaupun telah dioperasikan lebih dari lima tahun. Pabrik dengan kapasitas produksi sama besar dengan yang ada di Indonesia baru dibangun di Eropa setelah kelinci-kelinci percobaan ini menjadi gajah-gajah percobaan karena sudah beroperasi lebih dari lima tahun dimana selama itu pula mereka melakukan penelitiannya sambil digaji dan disubsidi oleh negara-negara dunia ketiga termasuk Indonesia. Bagi penulis fakta ini semakin meyakinkan bahwa pendidikan teknik (khususnya yang terkait dengan industri persemenan) kita belum dapat meningkatkan kepercayaan diri anak bangsa untuk mengurangi ketergantungan dengan pihak asing di bidang peralatan pabrik. Kesabaran masih tetap harus ditahan dan usaha tetap harus dilakukan secara konsisten, maju tak gentar.

 

Lampu kuning yang segera berubah ke merah lagi?

Allah maha besar, diawal tahun ke sembilan sejak belajar tentang persemenan, salah satu pabrik semen di Indonesia mau menerapkan hasil penelitian penulis dalam rangka meningkatkan efisiensi pabrik dan menurunkan ongkos produksi. Barangkali ada unsur keterpaksaan dalam hal ini mengingat harga bahan bakar mulai tinggi saat itu sedang manajemen ingin menutup proyek pengembangan pabrik yang sudah lama terbengkelai karena belum pernah mencapai target yang ditetapkan walau sudah beroperasi beberapa tahun. Dengan sedikit modifikasi yang diusulkan penulis serta perbaikan prosedur operasi pabrik, alhamdulillah, hasil yang dicapai luar biasa. Efisiensi ongkos produksi dan peningkatan kapasitas produksi dicapai. Sejak saat itu kepercayaan mulai mengalir, pekerjaan mulai berdatangan, namun badai rupanya masih belum berlalu. Belum lama kepercayaan diperoleh sehingga gaungnyapun belum sempat meluas, hiruk pikuk privatisasi merasuk pula ke industri persemenan. Beberapa pabrik semen (dengan total kapasitas produksi hampir 60% dari total kapasitas seluruh pabrik di Indonesia) dibeli oleh asing yang notabene punya niat untuk mentransfer laba dan transaksi engineering ke negaranya. Ada pula keinginan mereka yang tidak tersurat, yaitu keinginan mematikan kepiawaian bidang teknik bangsa ini. Beberapa industri strategis kita sudah mengalami ancaman mereka yang tidak tersurat ini. Bahkan ada pabrik semen di Indonesia tapi dimiliki asing yang jangankan mau mengaplikasikan hasil karya anak bangsa, menerima presentasi untuk mengenalkan kemampuan saja sudah tidak mau menerimanya. Alasannya mereka sudah memiliki divisi engineering, atau yang benarnya bahwa transfer laba tanpa pajak besar bagi kemaslahatan bangsa Indonesia ini dapat dilakukan melalui bidang engineering ini, atau ……wallahualam. Tentunya perasaan ini juga dirasakan oleh beberapa kawan yang berjuang meningkatkan kemampuan bangsa di bidang teknik, sehingga penulis sebut sebagai lampu kuning yang segera berubah menjadi merah lagi tanpa melalui warna hijau? Kepercayaan bangsa kepada anak bangsa masih tetap harus diperjuangkan, hasilnya kita serahkan saja kepada yang di SANA.

 

Pendidikan, nasionalisme ataukah globalisasi?

Apa sebenarnya akar penyebab dari kesulitan menggapai kepercayaan bangsa terhadap anak bangsa di bidang teknik ini ? Pertanyaan ini selalu menghinggapi sanubari. Apakah rasa nasionalisme yang semakin luntur, globalisasi yang semakin mengglobal, ataukah akibat pendidikan yang belum mampu menghasilkan kepercayaan diri dan bara semangat memajukan bangsa, atau …. lainnya? Apapun alasannya, kalau tangan kita ingin berada di atas di bidang teknik ini, meskipun peralatan teknik tersebut sebenarnya sangat sederhana, rasanya jalan panjang masih harus kita lalui bersama. Itupun masih dengan syarat apabila masih banyak anak bangsa yang memiliki niat, idealisme, dan semangat yang selalu membara tanpa henti untuk lebih memahami teknologi demi kemaslahatan bangsanya. Semoga.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: